Header AD

[ALIS] Mengenal Lebih Jauh Tentang Point of View


Kali ini, Tebe bakal ngebahas sesuatu yang agak serius. Ya, daripada kamu nunggu doi yang belum mau seriusin kamu, mending di sini kita bahas yang serius-serius dulu. Setuju nggak? Kalo nggak juga ya nggak papa, Tebe nggak maksa kok. Di rubrik baru kali ini, kita akan sharing-sharing banyak hal tentang menulis. Dan pada kesempatan pertama ini, Tebe mau ngajak kalian sharing dan mengenal lebih jauh tentang sudut pandang atau dikenal juga sebagai Point of View. Udah siap? Yuk duduk manis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pengertian dari sudut pandang (n) adalah cakupan sudut lensa terhadap gambar;

Aduh, agak ribet juga ya ngertiin sudut pandang aja harus pake KBBI.

Eits, jangan salah. Sebagai orang yang gemar nulis, kita harus berpedoman sama KBBI karena segala hal tentang menulis tersedia di sana. Ejaan Yang Disempurnakan, kata baku, juga pengertian tentang kata, lengkap. Jadi Tebe sarankan rajin-rajinlah baca KBBI.

Nah, balik lagi ke PoV. Jadi kalo dalam sebuah cerita, PoV itu adalah sudut pandang si tokoh bercerita.  Atau lengkapnya adalah cara pengarang menempatkan dirinya dalam sebuah cerita. Gimana cara dia menjelaskan tentang kepanikan orang yang melihat tragedi kecelakaan secara langsung, akan beda sama gimana cara dia menjelaskan rasa takutnya si pengendara mobil yang akan mengalami kecelakaan.

Point of View atau sudut pandang secara umum ada 3. Sudut pandang orang pertama, orang kedua dan orang ketiga. Sekarang yuk kita bahas satu per satu.

Sudut Pandang Orang Pertama.

SP orang pertama ini dibagi jadi dua, ada SP orang pertama tunggal dan SP orang pertama jamak. Untuk SP orang pertama jamak, seluruh penjelasannya sama kok kayak yang tunggal. Bedanya hanya dari jumlah tokohnya aja (kata ganti orang). Kalau yang tunggal jumlahnya satu dan kata ganti orangnya ada “Aku”, “Saya”, atau “Gue”, kalau jamak jadinya “Kami” dan jumlah tokohnya lebih dari satu.

Nah, untuk SP orang pertama ini, penulis menempatkan dirinya sebagai tokoh utama sekaligus narator dalam ceritanya. Jadi, dia ini selain jadi tokoh utama, juga jadi orang yang menjelaskan segala alur dari awal hingga akhir cerita.

Kelebihan dari penggunaan SP ini, penulis bisa membuat pembaca merasa “ikut masuk” dalam cerita yang ia buat. Pembaca bisa merasakan sendiri gimana rasanya jadi si tokoh “Aku”. Tapi sayangnya, kekurangan dari penggunaan SP ini ada di keterbatasan pengetahuan. Si tokoh “Aku” nggak tau apa yang dialami, dirasakan, bahkan dipikirkan orang lain. Karena logisnya, di kehidupan nyata pun, kita nggak bisa tau kan apa yang orang lain rasakan?

Untuk lebih memahami PoV pertama ini, Tebe kasih contoh kalimat yang pakai PoV pertama ya. Check this one out. 

Aku berjalan mengendap, lalu duduk di ujung tempat tidurnya. Kuelus rambutnya sepelan mungkin, berharap tak mengganggu istirahatnya. Mataku tertuju pada sebuah foto berukuran 4R di meja kecil di samping tempat tidur. 

Hening cukup lama. 

Aku mengambil pigura itu dan memandangnya lekat-lekat. Foto saat usiaku masih sekitar 30-an dan sedang memegang tangan seorang gadis kecil yang usianya baru menginjak 7 tahun. Putriku satu-satunya. 

Mataku teralih pada gadis yang masih terlelap. Kini, ia sudah bukan lagi gadis kecil. Ia tumbuh menjadi gadis dewasa yang semakin cantik. Dan selangkah lagi, ia akan menjadi seorang istri. 
(Cerpen Sepucuk Surat Biru karya Dwi Sartikasari dalam Antologi Sosok Terhebat)

Nah, gimana? Udah mulai kebayang kan? Oke kita lanjut ke SP yang kedua.

      Sudut Pandang Orang Kedua.
Sebenernya Tebe sendiri masih bingung untuk PoV orang kedua ini karena belum pernah baca cerita yang menggunakan SP orang kedua. Tapi namanya sharing-sharing, kita saling melengkapi aja ya.

Di SP orang kedua ini, penulis menempatkan dirinya sebagai narator yang seolah-olah lagi berbicara dengan orang lain dan menggambarkan apa yang dikerjakan orang itu. Untuk kata ganti orang kedua ini, kalian bisa pakai “Kamu”, “Kau”, atau “Anda”. Gini deh simpelnya. Kalau kalian baca cerita yang pakai SP orang kedua, kalian bakal ngerasa kayak lagi baca surat dari seseorang. Dan seseorang itu ya si penulis. Nah kalau masih bingung, yuk liat contohnya.

Kedua lututmu terasa lemas saat kau bersandar pada pemadam api yang baru saja dicat merah, putih, dan biru. Nalurimu ingin berlari mendekati mereka, berteriak, aku juga! Aku juga! Sekarang kau bisa merasakan penyangkalan yang sudah lama sekali kaulakukan; kau ingin berlari dan mengatakan kepadanya tentang kehidupanmu selama tiga puluh satu tahun tanpa dirinya, dan membuatnya berteriak dengan kepastian tanpa dosa: Oh, kau sungguh putri yang cantik!
(Cerpen Main Street Morning karya Natalie M. Patesch, pengarang cerpen asal Amerika)

Di situ, penulis berusaha menceritakan sesuatu seolah si pembaca-lah tokoh utama dalam ceritanya. Sedangkan dia hanya bertugas sebagai narator. Jadi, gimana? Udah jelas?

      Sudut Pandang Orang Ketiga.
Untuk sudut pandang orang ketiga ini, penulis menempatkan dirinya sebagai narator yang nggak masuk dalam cerita. Jadi dalam penuturan ceritanya, penulis menggunakan kata ganti orang ketiga, yaitu “Dia” atau “Ia”. Sama kayak SP orang pertama, SP orang ketiga ini dibagi jadi dua. Ada SP orang ketiga tunggal juga ada jamak. Bedanya hanya dari jumlah tokoh aja. Kalo yang tunggal hanya satu, dan pakai kata ganti orang “Dia” atau “Ia” sedangkan untuk yang jamak jumlahnya—of course—lebih dari satu dan pakai kata ganti orang “Mereka”.

Apa enaknya kalau kalian menuturkan cerita pakai SP orang ketiga? Enaknya, kalian bisa menceritakan apaaaaaaaa aja yang kalian mau dan bayangkan. Kalian adalah “Sang Penentu Takdir” dalam cerita kalian sendiri. Kalian bisa tau apa yang dipikirkan tokoh A-Z, kalian bisa tau apa yang dikerjakan semua tokoh dalam cerita. Soalnya kan kalian nggak berperan dalam cerita alias kalian hanya narator.

Tapi sayangnya, meskipun kalian serba tau, SP orang ketiga ini juga tetep punya kekurangan. Karena kata ganti orang yang bukan “Aku”, pembaca seolah susah untuk masuk ke dalam cerita yang kalian buat. Terlebih kalau cara kalian bercerita itu bikin bosen atau nggak banget. Pembaca kemungkinan males untuk ngelanjutin membaca. Jadi, pinter-pinterlah untuk merangkai kata kalau kalian memutuskan buat bercerita pakai SP orang ketiga ini.

Nah, buat bikin kalian lebih memahami gimana, sih, penggunaan SP orang ketiga ini? Mari kita intip contohnya.

Tom sudah berlari melewati beberapa gedung. Bahkan, seringkali ia menabrak pejalan kaki di trotoar. Suasana kota mulai ramai dan padat karena memasuki jam pulang kantor. Tapi Tom seakan tak peduli. Ia terus berlari sambil berbicara “Permisi” pada beberapa pejalan kaki lainnya. Napasnya mulai tersengal-sengal. Ayunan langkah kakinya mulai melambat. Butiran keringat menetes di pelipisnya. Ia bahkan nyaris menyerah ketika traffic light untuk pejalan kaki berubah menjadi warna merah. Tom mengumpat kesal.

Gimana? Udah kebayang, kan?

 
Nah, terakhir, Tebe mau kasih beberapa tips nih tentang penggunaan sudut pandang.

Oke. Pertama, kalau kalian mau pembaca bisa masuk ke dalam ceritamu, tapi kalian pengen juga bisa tau apa yang dilakukan atau dirasakan tokoh lain selain tokoh “Aku”. Caranya, ambil 2 sudut pandang. Udah pernah baca novel Remember When karya Winna Effendi? Di sana, Mbak Winna mengambil SP orang pertama. Tapi, dia ngambil dari berbagai sudut. Sudutnya diambil dari keempat tokoh utama (mereka saling sahabatan) plus 1 tokoh sampingan. Nah, jadi, sometimes kita bisa ngerasain jadi tokoh pertama pas adegan ini. Tapi, kita juga bisa ngerasain jadi tokoh kedua di adegan yang sama. Karena pandangan orang dalam suatu kejadian mungkin aja berbeda-beda. Yang penting jangan takut mencoba, ya!


Kedua, try something new! Kalian bisa coba sesuatu yang baru dengan ngambil sudut pandang sebuah barang atau makhluk hidup yang lain. Kayak yang pernah dicoba sama salah satu gyerz dalam cerpennya. Tebe juga pernah baca cerpen yang ngambil sudut pandangnya adalah pohon. Sebenernya, kreativitas itu bisa diasah selama kalian mau mencoba hal baru. Dan tentunya, nggak pernah takut!

Gagal itu biasa, tapi berhasil setelah gagal itu jauh luaaaar biasa!

Baiklah, kayaknya cukup segini aja yang bisa Tebe sharing sekarang. Masih akan ada banyak sharing-sharing kita selanjutnya. Jangan lupa ya, kalau ada kekurangan, tolong kasih saran di kolom komentar. Atau boleh banget kalau mau dilengkapi juga. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat dan…, see you next time!
[ALIS] Mengenal Lebih Jauh Tentang Point of View [ALIS] Mengenal Lebih Jauh Tentang Point of View Reviewed by dwi sartikasari on 08:00 Rating: 5

16 comments

  1. Menurut gue sudut pandang orang ke-2 ada di novel-novelnya Sherlock Holmes. Walaupun di situ tokoh Watson menggunakan kata 'aku', tapi sebenernya pusat cerita ada di si Holmes. Kurangnya sudut pandang orang ke-2 yang paling susah diakalin adalah, tokoh utama dan si pencerita harus terus bersama dari adegan ke adegan. Paling banter ya bikin cerita plot mundur atau flashback. Jadi rada susah ya kalo buat novel menurut gue sih. IMHO and CMIIW =)

    ReplyDelete
  2. Menurut gue sudut pandang orang ke-2 ada di novel-novelnya Sherlock Holmes. Walaupun di situ tokoh Watson menggunakan kata 'aku', tapi sebenernya pusat cerita ada di si Holmes. Kurangnya sudut pandang orang ke-2 yang paling susah diakalin adalah, tokoh utama dan si pencerita harus terus bersama dari adegan ke adegan. Paling banter ya bikin cerita plot mundur atau flashback. Jadi rada susah ya kalo buat novel menurut gue sih. IMHO and CMIIW =)

    ReplyDelete
  3. Bagus, Tebe. PoV ini memang dasar banget untuk diketahui dalam membuat sebuah tulisan baik fiksi maupun nonfiksi sekalipun. Aku pernah baca, yang paling susah tetapi paling digemari adalah sudut pandang kedua. Jadi penulis menceritakannya sebagai aku sekaligus tahu kondisi yang dirasakan orang lain. Susah. Dan butuh kelogisan yang tinggi.

    Yang biasa dipakai sudut pandang pertama ini biasanya dipakai tulisan Personal Literature. Meski juga banyak novel yang pakai PoV satu. Kalau PoV tiga juga banyak banget. Ini lebih enak sih, jadi penulisnya bebas mau gambarin apa aja. :D

    Asal dalam satu cerita kudu konsisten. Mau pakai PoV satu eh, tiba-tiba jadi PoV tiga. Gampang-gampang susah, yaa.. :D

    ReplyDelete
  4. Wah gue belajar banyak dari postingan yang satu ini. Biasanya kalo nulis di blog seringnya make sudut padang pertama. Gue dan Aku. Udah tau ini sejak lama dan juga belajar pas di sekolah :D, tapi yang agak sulit itu sudut pandang ke dua, apalagi kalo digabungin dengan beberapa sudut pandang lainnya.

    Tapi tak ada salahnya terus mencoba :)

    ReplyDelete
  5. Ini pelajarn Bahasa Indo Yang Mas ~

    ReplyDelete
  6. keren, membahas mengenai sudut pandang. Ternyata sudut pandang ada tiga. Dan saya biasanya menggunakan sudut pandang pertama, karena lebih mudah. Tetapi tidak ada salahnya mencoba berbagai sudut pandang lainnya. Terima kasih infonya Tebe, sangat bermanfaat untuk membuat cerita :)

    ReplyDelete
  7. Yang kaya gini emang penting banget, banget, soalnya ada beberapa orang yang dulunya nggak tertarik belajar bahasa, tapi sekarang menyesal ingin belajar lagi, contohmya gue, atau memang cuma gue kayanya sih, menarik Be, bagus, gue jadi bisa belajar dengan santai disini. Makasih.

    ReplyDelete
  8. Baru tau nih kalo ada sudut pandag kedua, biasanya disekolah cuma diajarin sudut pandang pertama sama ketiga.

    Aku kebanyakan kalo bikin cerpen mesrti ngambil orang pertama, biar dapet kesannya. Sedangkan sudut pandang ketiga ya gitu serunya, seakan-akan kita jadi sutradaranya. Semuanya sama-sama seru nih. Cuma sudut pandang yang kedua aja yg aku belum tau

    ReplyDelete
  9. hahahaha, ampun -____-
    jujur gue pusing tentang sudut pandang2 an begini. gue nggak pernah ngerti aku, dia, atau siapalah. yang gue tau cuma.. sudut pandang gue adalah orang ketiga sebagai penghancur hubungan :")

    ReplyDelete
  10. sudut pandang kedua kayaknya lebih rumit lah. agak susah juga.
    aku pernah baca juga kalau sudut pandang orang ke dua itu, orang lain yang menceritakan kisah kita. ah banyak version lah pokoknya~~

    ReplyDelete
  11. Terima kasih tebe untuk postingan sharing bermanfaat ini. Jadi menambah nilai pandang lo di mata gue xD #aih
    Ini yang perlu banget gue pelajari dengan seksama jika ingin menjadi penulis yang baik dan benar + nggak abal-abal/ sembarangan. Menurut gue, yang namanya kalau sudah mendapatkan teori, maka selanjutnya yang harus dilakukan adalah praktek. #ngacir

    ReplyDelete
  12. Kalau gak salah pernah dengar juga soal sudut pandang ini:

    Sudut pandang orang pertama, pelaku utama. Di SP ini, penulis menjadi tokoh utama yang bercirikan penggunaan "aku", "saya", atau "gue" sebagai subjek dan penulis menjadi tokoh utama. Contohnya banyaklah kalau SP jenis ini.

    Sudut pandang orang pertama pelaku sampingan. Penulis menempatkan diri di dalam cerita namun tidak menjadi tokoh utama dalam cerita. Ciri khasnya sama kayak SP orang pertama dalam penggunaan subjek, bedanya, SP orang pertama pelaku sampingan tidak berperan sebagai pelaku utama. Contohnya kayak novel Pidi Baiq - Dia adalah Dilanku tahun 1990.

    Sudut pandang orang ketiga serba tahu. Sama seperti yang diuraikan di atas. Contohnya kayak di Novel 5cm-nya Donny Dhirgantoro.

    Menurut aku yang paling susah sih nulis pakai sudut pandang orang ketiga :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. btw kalo SP orang kedua ada penjelasan gak Kak? :D

      Delete
    2. Kalau sudut pandang orang kedua kayaknya belum pernah dapat referensi deh, Dwi. Kalau ada link-nya bolehlah dibagi ke aku XD

      Delete
  13. sekarang kalo gue masih menikmati pake sudut pandang orang pertama, dulu sih waktu pertama julis pake sudut pandang orang ketiga

    ReplyDelete