Header AD

[Kopdar] Hangatnya Kopdar BE Surabaya


Jika kita melihat ke bawah, maka yang terlihat hanyalah bayangan tubuh kita yang berukuran kurang dari seperempat ukuran aslinya. Lebih pendek, lebih kecil, dan tetaplah hitam layaknya bayangan. Apalagi kalau bukan matahari jam 11 yang menjadi penyebabnya. Amboi, udara benar-benar panas. Matahari jam 11 sudah siap membakar kami berlima yang sedang dalam perjalan menuju Surabaya untuk menghadiri acara kopdar Blogger Energy di Monumen Kapal Selam (monkusel).

'Hud.. kamu di mana? Kita semua sudah kumpul semua nih.' Sms dari Taufan beberapa menit yang lalu, gue baru aja membacanya setiba di perempatan pertama. Gue lega, setelah beberapa jam yang lalu Antok bilang ke gue kalo rombongannya molor sejadinya, rencana gue berhasil, akhirnya mereka sudah tiba juga. Gue hanya membalas sms Taufan kalo gue baru aja berangkat.

'Kampret Hud! Katanya kamu jam 11, kenapa masih belum nyampek juga?'

'Maksudnya itu aku berangkat jam 11, Taufan. Aku nyampe sana habis Dhuhur, paling.' Bales gue singkat. Sambil menutup-nutupi layar handphone dengan tangan kiri biar layarnya yang kena sinar matahari bisa kelihatan—sedangkan tangan kanan bertugas untuk memencet-mencet, memberi perintah.

Kami berlima meliuk-liuk memecah kemacetan jalanan kota Sidoarjo-Surabaya, berjalan kadang zig-zag, mengejar kemana bayangan pohon berada, karena sinar mentari siang itu sungguh bak berada di dalam oven yang sudah setengah jam dinyalakan dengan suhu tak terbilang angka. Panas. Bahkan pohon-pohon tinggi itu mulai berteriak ingin diturunkan hujan, sela-sela dahannya berkeringat.

Sudah dari jauh-jauh hari, gue bilang sama anak-anak yang mau ikut kopdar, kalo gue bakal dateng agak siangan, karena paginya ada acara. Dan karena anak-anak Malang yang naik kereta dateng ke Surabaya jam 9:45, lantas, untuk tidak membuat rombongan gyerz dari Malang menunggu lebih lama, gue menyiasati dengan  membagi rombongan gyerz dari Sidoarjo menjadi dua kloter: kloter pertama berangkat pagi, sedangkan kloter kedua berangkat siang. Gue ikut yang kloter kedua.

Rencana gue ini berhasil. Taufan, Antok, dan Riza—yang tergabung di kloter pertama bahkan sudah tiba di Monkasel sebelum rombongan Malang keluar dari gerbong kereta, sedangkan Renza yang sebelumnya tergabung di rombongan kloter pertama, tiba-tiba enggak ikut karena sebab entahlah. Membuat kami bertanya-tanya kenapa tiba-tiba enggak ikut?

Kami berlima terus melaju memecah jalanan kota, angin yang kami harapkan dapat sedikit menyejukkan udara sedang tidak berbaik hati, mereka justeru memperparah keadaan. Udara semakin panas, di masjid-masjid yang kami temui di pinggir jalan sudah pada mengumandangkan adzan, tandanya matahari sudah tepat berada di atas ubun-ubun, kalo belum tepat di atas ubun-ubun, berarti sebentar lagi. 

Belum genap 30 menit, kami sudah bisa melihat tulisan 'Selamat Datang di Kota Surabaya'. Truk kuning dengan plat W bertahun 2016 itu sempat berada agak lama di sebelah kanan gue, membuat teduh gue—yang sebenernya diboncengin Dali. Tapi setelah truk itu berbelok ke arah entahlah, cahaya matahari kembali bebas menusuk-nusuk gue dan yang lain.

'Kalian masih di monkasel kan? Aku sudah sampe sby.' Tanya gue ke Taufan, masih lewat media yang sama seperti sebelumnya.

Berbilang sepuluh atau lima belas menit setelah sms itu terkirim, gue dan rombongan Sidoarjo kloter kedua sudah tiba di Monumen Kapal Selam. Memarkir motor, menaruh helm, ngaca bentar di spion, lalu langsung masuk ke dalam Monkasel. Merapikan rambut sesekali, menelan ludah, gue agak gugup, sudah lebih dari 4 bulan lamanya tidak bertemu sama mereka. Ah kayaknya gue kangen....kak Miftah.

'Karcisnya berapa nih?' Kata Bang Latip, pemilik blog latif.my.id. Tangan kanannya memegang topi seperti yang sutradara-sutradara film gunakan saat di lokasi syuting, kumisnya dirapikan, hingga terlihat masygul menawan. Tapi sayang, cuma pencitraan.

'Bentar aku tanyain.' Jawab Vicky tangkas, lalu tanpa buang-buang waktu, dia langsung menuju loket karcis, berbicara babibu, lalu kembali lagi ke depan gerbang di mana kami rombongan kloter pertama Sidoarjo berdiri.

'Karcisnya delapan ribu!' Jelas Vicky. Tangan kanannya menyapu peluh di dahinya, gue ingin ikut membasuh, tapi gue urungkan lagi niat itu mengingat ini adalah tempat umum. Banyak anak kecil. Banyak emon-emon yang menyamar.

Setelah membayar karcis dan setelah karcisnya disobek, kami berlima masuk. Melewati bayangan-bayangan teduh pohon-pohon yang berdiri kokoh di pinggir jalan masuk, berlindung dari sinar matahari. Monumen Kapal Selam itu terlihat jelas, sangat besar, bayangannya saja bisa meneduhi ratusan orang jika berdiri di sebelahnya.

'Vik, mereka di mana?'

'Di cafe di belakang kapal.' Jawabnya cepat. Gue menoleh kearahnya dengan ekspresi muka yang menanayakan, iyakah? Demi melihat ekspresi itu, Vicky kembali menjelaskan, 'tadi aku abis nanya di wasap.'

Kami berlima langsung menuju ke sana.

Jika siang itu kalian berada di sana. Berjalan sekitar 30 meter melewati monumen kapal selam yang besar itu, maka yang akan kalian temui setelahnya adalah sebuah cafe dengan atap yang tinggi dan tanpa tembok sehingga jika berada di bawahnya, kita seakan-akan berada di bawah awan, teduh. Meja-meja bundar dikelilingi oleh kursi-kursi kayu yang tak berlengan, sedangkan meja-meja yang agak lonjong, lebih banyak kursi yang mengelilinginya. Di pinggir sana terlihat mall-mall dan gedung-gedung lain berjejer rapi, dan juga menyilaukan jika dilihat. Tapi kami sungguh tak bisa menyeberang, karena kafe tempat kami berada dan mall-mall itu berbatasan dengan sungai entah apa namanya.

Saat pertama kali kalian kehilangan pandang atas kapal selam yang terdampar di daratan itu, maka yang terlihat pertama kali dari kafe itu hanyalah kasir, dan salon-salon dengan suara dentuman yang mengganggu berdiri di depannya. Membuat meja-meja di sekitar salon tersebut sepi penduduk, karena tak tahan oleh suaranya. Dan kalau kalian membuang pandang ke arah jam 2, maka di sanalah mereka berada. Di meja lonjong di pinggir sungai dengan banyak kursi yang dirapatkan dan tak menyisakan tempat lagi. Gue berjalan ke meja itu, menjabat tangan satu-persatu, lalu bilang, 'Udah nunggu lama ya? Sori-sori.'

Seperti yang terlihat dari jauh. Meja lonjong itu penuh. Vicky menyiasati untuk menarik satu meja lagi, menggabungkannya, lantas kami satu persatu yang baru dateng mengambil kursi-kursi kosong di sekitar meja yang lain. Dan gue sudah duduk unyu di sebelah Riza dan Ridho. Sedangkan Vicky, bang Latip, Okto, dan Dali, diapit oleh Ridho dan kak Nenna.

Dalem hati gue nanya, 'Kak Miftah mana?'

'Nama saya Nenna!' Kak Nenna akhirnya memulai bicara, setelah sebelumnya menjadi yang paling banyak ditunjuk untuk memulai bicara, memutuskan untuk melakukan perkenalan. Lalu setelahnya Kak Nenna menyebut kesibukannya, alamat blognya, dan beberapa data diri lainnya secara singkat.

'Nama saya Kiky!' Kali ini giliran Kak Kiky yang duduk di sebelah Kak Nenna, masih menyebutkan hal senada seperti Kak Nenna. Dan berikutnya yang secara bergiliran memperkenalkan diri—meskipun beberapa sudah kenal—adalah: Kak Wila, temennya Kak Wila yang gue lupa namanya, Kak Moti, Maz  Reyza, Taufan, Riza, Gue, Ridho, Antok, Bang Latif, Vicky, Dali, dan Okto. Dan beberapa sebentar, Kak Isna, cewek yang pernah ditembak di rental PS dan bikin ngiri banyak cewek lainnya, tiba-tiba dateng. Karena Kak Isna termasuk wajah baru di sana, maka perkenalan pun diulang dari awal, memutar ke kanan, masih sama seperti sebelumnya.

Salon-salon yang ada di depan kasir ini makin siang makin berdentum kencang. Lagu dangdut yang penyanyinya bahkan juga liriknya pun gue belum pernah konsumsi sebelumnya, berngiang-ngiang. Satu-dua pengunjung mulai meninggalkan tempat—makanannya sudah habis. Ridho yang duduk di sebelah gue, seperti yang lainnya, mulai gelisah.

'Kayaknya kita harus pindah tempat deh? Di sini enggak enak.' Kak Nenna berseru. Yang lain memperhatikan. Gue cuek aja, asik sama cewek berkerudung di meja yang lain. 

Beberapa anak ada yang setuju, beberapa yang lain enggak memeberi jawaban, mungkin sama kayak gue, mereka sedang memperhatikan yang lain.

'Emang kenapa sih harus pindah tempat?' Gue berkata pelan kepada Ridho, 'kan di sini tempatnya udah enak. Teduh, pinggir sungai.'

'Apa Hud?' Ridho menjawab, agak keras. Kalo dilihat-lihat, dia kayaknya enggak ngedengerin apa yang gue omongin barusan. Gue mengulang pertanyaan gue.

'Iya sih Hud.. di sini enak,' katanya dengan logat jawa barat, lalu melanjutkan, 'tapi suara dangdutnya itu ganggu banget.'

'Iya juga, sih, Dho.' Gue mengangguk.

Akhirnya kami semua pindah tempat, enggak tahan sama lagu dangdut yang bertalu-talu. Dan gue, males banget gerak buat nyari tempat, bukannya gue gimana-gimana, tapi yang jelas mencari tempat sama dengan berjalan tanpa tujuan.

Kami berjalan menyusuri tempat parkir, masih berjalan dari bawah pohon satu, ke pohon lainnya, saling dorong, berebut tempat teduh. Gue bersungut-sungut karena gue selalu kena dorong, kepanasan. Meskipun gue udah biasa sama udara panas di Sidoarjo, tapi udara panas di Surabaya kali ini beneran nyiksa! Panasnya nusuk sampe ke sum-sum tulang belakang!

Setelah berdiskusi—sambil sedikit berdebat, kami memutuskan untuk mencari tempat yang pokoknya teduh. Titik. Gak mungkin kami bisa sharing atau ngobrol outdoor kalo mataharinya lagi ngamuk gini, bisa-bisa kami pulang tinggal tulang belulang, yang sudah matang.

Dengan kriteria seperti itu, maka gue lupa nama tempatnya apa, yang jelas itu tempat skate board gitu, banyak lintasan tanjakan, dan turunan. Bergulung-gulung aspal yang menjadi pembatas lintasan, tempatnya menjorok ke bawah kayak kolam ikan kekeringan. Dan di bawah pohon entahlah, di bawah bayang-bayang tanjakan yang lumayan tinggi-menjulang, gue dan anak-anak BE melingkar di sana. Di sebelahnya masih ada sungai yang sama. Kami semua berteduh.

'Iya, jadi temen-temen..' giliran Kak Wila yang memulai bicara, karena Kak Nenna di sebelahnya sudah ngambek dipaksa-paksa jadi mc, 'Sekarang kita mau ngadain sharing.' Semua mata tertuju ke arah datangnya suara. Tertarik. Dan gue hanya melihat ke atas, di sana ada segerombolan anak kecil dengan sepeda bmx-nya, hendak terjun ke bawah dari tanjakan yang menaungi kami. Sedangkan Ridho, dia ngeliatin gue yang lagi ngeliatin anak kecil.

'Jadi temanya kali ini adalah.......' Kak Wila mengedarkan pandangan, yang lain makin memperhatikan, penasaran. Salah satu anak kecil di atas tanjakan sana, sudah meluncur ke bawah, melakukan sebuah atraksi sederhana untuk memukau teman-temannya. Gue melihatnya takzim. Di udara sepanas ini, mereka malah bersenang-senang seolah langit sedang hujan.

'Jadi temanya adalah alasan kalian ngeblog dengan genre personal, dan kenapa kalian pengen gabung sama Blogger Energy! Udah.' Lanjut Kak Wila. Satu-persatu gyerz yang hadir, memasang muka mikir, nyari-nyari alasan kenapa dia milih genre personal dan pengen gabung sama BE.

Satu-persatu gyerz ditunjuk untuk bicara, satu-persatu dari mereka menyebut alasan, satu-dua gyerz mengajukan pertanyaan, dan yang berkesempatan berbicara menjawab, malu-malu. Seandainya hawa kota Surabaya kali ini dingin, maka tetaplah pertemuan kali ini membawa suasana yang hangat. Kami makin akrab satu sama lain. 

'Temen-temen, kita kan sudah sharing nih,' Kak Nenna angkat bicara, wajahnya cerah menyimpan rahasia, 'Sekarang waktunya games!' Lanjutnya.

'Ada yang tahu gamenya apa?' Kak Nenna sekarang sudah berdiri di tengah-tengah lingkaran, berorasi seperti Ibu Kartini, 'Ada yang tahu?' Kami kompak menggeleng. 

'Jadi ntar kalian dibagi menjadi tiga tim,' Kak Nenna berhenti sebentar, membuat kami jadi penasaran, 'Lalu masing-masing perwakilan dari tim kalian, harus perform stand up comedy!' Lanjutnya.

Deg. Gue adalah pecinta stand up comedy kelas berat, dan akhir-akhir ini, gue telah rela menjadikan temen-temen sekelas gue menjadi tumbal untuk melihat betapa garingnya gue stand up comedy. Dan sekarang, gue degdegan, berharap bukan gue yang mewakili tim gue untuk maju ke depan.

Gue satu kelompok sama Vicky, Bang Latip, Okto, Kak Moti, dan entah siapa lagi gue lupa. Lalu di arah jam sepuluh, bergerombol duduk melingkar kelompok yang salah satu anggotanya adalah Ridho, dan kelompok lain salah satunya adalah Maz Reyza. Dan sialnya, gue, Ridho, dan Maz Reyza, adalah mereka yang ditunjuk untuk mewakili tim masing-masing. Gue menghela nafas panjang. Nasib buruk. Ini nasib buruk.

Kami bertiga setelah 15 menit berusaha menemukan materi sesuai tema, maju ke depan, hompimpa, menentukan siapa yang harus tampil duluan. Gue melihat ke atas, kosong. Tanjakan yang tadi sempat ramai dengan anak-anak dan bmx-nya, sekarang hanya sinar matahari yang membakar permukaannya. Angin sesekali bertiup, membawa hawa sejuk meski sedikit, tetapi jantung gue enggak berhenti berdegup kencang.

'Putih Hud! Putih!' 

'Hitam Hud! Hitam!'

'Ayo Maz Reyza! Putih!'

'Ayo Dho! Hitam Dho hitam aja!'

Gue menggosok-gosokkan kedua tangan, Ridho menggaruk kepalanya yang enggak gatal, dan Maz Reyza benerin kaca matanya yang enggak miring. Kami semua dirundung gugup, berperang melawan kemungkinan terburuk: menjadi opener.

Di saat entah daun keberapa yang jatuh siang itu, tangan-tangan kami pun meluncur. Satu.. dua.. tiga! Gue mengerjap-ngerjapkan mata, berusaha enggak ngelihat hasilnya. Tapi apa yang bisa gue lakukan, tangan sudah terlanjur terjulur, memilih telapak tangan berada di atas. Sedangkan yang lain, memamerkan punggung tangannya. Oh men, gue jadi yang pertama!

***

'Eh Dho, lu ke Surabaya mau daftar kuliah, kan?' Tanya gue memecah kesibukan masing-masing dengan garpu dan sendoknya di atas meja. Ya, setelah games dari Kak Nenna, acara selanjutnya adalah makan siang—tentunya setelah foto-foto bersama. Sayangnya, Kak Isna dan Kak Wila beserta temannya harus pulang duluan, entah apa pasal.

'Sebenernya mau kuliah di Malang Hud,' Ridho menyendok satu suapan gado-gado, mengunyahnya beberapa sebentar, lalu di telan, 'Tapi karena di Surabaya ada om, jadi ke sini deh. Sekalian liburan.'

'Haduh Dho.. Surabaya panas, kamu ngapain ke sini.' Kak Kiky memotong pembicaraan, tangannya mengipas-ngipas kerudung yang dipakai. Kepanasan. Gue satu meja berempat dengan Ridho, Kak Nenna, dan Kak Kiky. Tadi gue sebenernya sempet semeja sama Dali, tapi berhubung tamu paling jauh dan kayaknya bakal susah ditemui adalah Ridho, akhirnya gue memilih untuk sebangku dengannya. Di bangku sebelah, di isi oleh anak-anak Sidoarjo, Bang Latip, Taufan, Antok, dan Riza. Sedangkan di meja satunya diisi oleh wajah-wajah baru, ada Dali, Maz Reyza, dan Kak Moti—meskipun Kak Moti sebenernya anak lama. Dan meja terakhir di paling ujung duduk berdua adalah Okto dan Vicky, bercengkrama, berseringai ke setiap orang, entah apa pasal. Peringainya seperti orang yang sedang pacaran, makan sepiring nasi berdua, dengan hanya satu sendok dan satu garpu yang dipakai bergantian.

Menghabiskan waktu sekitar 20 menit, kami beranjak juga dari tempat makan itu. Gue beranjak lebih dulu dari yang lain, berdiri sambil melakukan peregangan otot punggung. Dua orang cewek cakep yang kalo gue deskripsiin bisa-bisa ini mengarah ke cerita dewasa, keluar dari mobil di ujung parkiran. Berjalan beriringan menuju ke mall entahlah. Yang satu pake kaca mata, yang satunya matanya ada kacanya. Sekali-dua gue ngelirik tuh cewek, sambil berusaha enggak ketahuan sama yang lain.

'Hud,' Maz Reyza meletakkan tangannya ke punggung gue, 'Lu pilih yang mana Hud? Tuh tuh.. yang mana?' Gue menoleh, kaget. Kampret, ternyata dia nanyain gue tentang dua cewek berkacamata hitam itu. Burung-burung di atas pohon beterbangan, mengepak-ngepakkan sayapnya hingga tubuhnya terbang melayang. Gue gelagapan, enggak siap mau jawab apa, mau pilih yang mana.

'Udah tua semua itu Za..' jawab gue, ragu-ragu.

'Ah enggak lah Hud, masih—' 

'Cewek jaman sekarang mah tua muda gak ada bedanya.' Ridho memotong, tiba-tiba dia ada di sebelah Maz Reyza. 

Sejak game stand up comedy tadi siang, gue sama Ridho dan Maz Reyza memang jadi lebih akrab, bisa lebih bebas mengolok-olok satu-sama lain tanpa khawatir ada yang tersinggung. Oi, apa? Jadi kalian enggak tahu cerita tentang stand up comedy tadi? Bagaimana bisa? Okay-okay, baiklah, biar gue ceritain

***

Setelah hompimpa, dan setelah urutan siapa yang bakal tampil sudah jelas, gue sempat mengajukan banding, minta waktu sedikit lebih lama untuk menyiapkan materi—sebenarnya menyiapkan mental. Tapi karena didesak, dan hompimpa gak bisa diulang, gue akhirnya dengan sedikit terpaksa harus berani ngalahin mental gue sendiri. Gue yakin kalo materi yang digodok kurang dari 20 menit, maka hasilnya bakal garing. Jadi waktu itu yang mesti gue kalahin adalah mental gue sendiri, gue harus berani maju. Soal garing atau enggak itu soal belakang, pokoknya udah berani ngomong di depan.

Maka dengan degap jantung yang memburu, gue maju. Disoraki semua gyerz yang duduk melingkar, burung-burung di atas pohon terbang meloncat, kaget dengan suara tepukan tangan anak-anak BE. Ridho dan Maz Reyza yang sedang menonton, duduk bersila, mulutnya enggak berhenti komat-kamit, keadaan mereka enggak jauh beda kayak gue, sama deg-deg-an.

'Nama gue Nurul Huda, banyak orang yang ga tahu kalo gue ini pengusaha muda yang kaya,' gue mengedarkan pandangan, wajah-wajah mereka memandang gue penasaran, gue menelan ludah, lalu melanjutkan, 'Iya, gue sudah menelurkan banyak masjid dan mushola di Indonesia, namanya masjid Nurul Huda.' Krik-krik-krik, enggak ada yang ketawa.

Gue memutuskan untuk melanjutkan.

'Gue kebagian tema ngenes, dan pas banget sama gue. Dulu gue inget banget, pas baru gabung sama BE, gue disambut dengan meriah. Banyak cowok-cowok yang senang-gembira.' Gue menghela nafas, memotong apa yang gue bicarakan sendiri.

'Tapi pas pertama kali gue promo, kebanyakan dari mereka manggil gue mbak,' krik-krik-krik, enggak ada yang ketawa.

'Mereka manggil gue mbak tapi enggak nembak-nembak, mereka itu cowok egois.' Krik-krik-krik. Bahkan untuk ngebombslide pun, gue gagal. Dan setelahnya joke-joke yang gue lontarkan enggak ada yang kemakan, hingga saat gue memutuskan untuk nyerang si Ridho yang masih komat-kamit di tempat dimana dia sedang duduk.

'Eh lu korban Emon!' Gue menunjuk Ridho, yang ditunjuk bersungut-sungut, bersumpah-serapah tanpa ada yang mendengar. Mukanya memerah. 

'Ngapain di sini? Kalo minta keadilan jangan di sini dong, korban Emon!' Barulah mereka ketawa, sampe akhirnya gue memutuskan untuk menutup set gue, yang mereka ketawain tetaplah saat gue nyerang si Ridho.

Sekarang giliran si Ridho yang maju. Tangannya menggaruk-garuk rambut gimbalnya yang enggak gatal, mondar-mandir ke kanan ke kiri layaknya suami yang gemas melihat istrinya akan melahirkan. Kami semua duduk diam memperhatikan, menunggu Ridho memulai bicara. Burung-burung yang tadi beterbangan sudah kembali ke dahannya masing-masing, ikut memperhatikan. Gue menghela nafas, mencoba menenangkan detak jantung yang masih kencang.

'Apaan yak?' Ridho memulai bicara, masih mondar-mandir ke sana kemari. Logat sukabumi-nya jauh beda sama logat kami yang medok, membuat Ridho lebih menarik untuk didengar.

'Ngomongin galau,' dia memotong sebentar, mondar-mandir, matanya berputar-putar mencari ide, 'Dua Minggu yang lalu gua datang ke Surabaya. Naik bus, sendirian. Turun di terminal... terminal.. terminal apa tuh? Yang gedhe tuh?'

'Bungorasihhh!!!' Kami semua menjawab, sambil senyam-senyum melihat kepolosan Ridho yang di blognya suka ngaku-ngaku anak STM yang garang itu.

'Nah, iya Bungorasih. Gua tuh pake setelan kayak gini, udah santay aja jalan keluar terminal. Pas dijalan ada orang yang nawarin, tukang becak atau sopir taksi gitu, gua lupa. Nah orangnya bilang, “Badhe pundi mas?” Badhe? Nih orang ngomong apaan yak. Karena gua gak ngerti, akhirnya gua cuekin aja tuh orang, gua tetep jalan.

Gua jalan.. eh ada orang lagi nanya pertanyaan yang sama. “Badhe pundi mas?” Badhe? Kalo dari bahasa Sunda, badhe itu mau, mungkin orang itu nanya gua mau kemana. Tapi kalo pundi? Em... pundi..' Ridho diem sebentar, menarik nafas. Gesturenya masih sama kayak sebelumnya, mondar-mandir kayak suami yang gemas menunggu istrinya di ruang bersalin.

'Pundi.. jangan-jangan pundi itu pundi-pundi uang? Gua sih mikirnya gitu.' Krik-krik-krik, tampaknya Ridho juga sama kayak gue, garing, tapi dia masih lebih asik untuk didengar, enggak kayak pas gue perform tadi.

'Nah kan.. gak ada yang ketawa.' 

'Hahahaha!' Mendengar kepolosan Ridho, kami semua tertawa. Lalu satu-dua dari kami bertepuk tangan, dan diikuti tepuk tangan dari yang lainnya juga hingga membuat burung-burung di atas pohon yang meneduhi kami semua terbang terperanjat.

Ridho melanjutkan ceritanya tentang gimana dia dateng ke Surabaya dari Sukabumi sendirian naik bis, terus galau ditanya-tanyain supir taksi. Sampe akhirnya dia dijemput sama omnya dan menutup set stand up comedy-nya. Kami sekali lagi bertepuktangan mengapresiasi.

Angin yang berhembus dari sungai di belakang kami semilir membawa sedikit kesejukan, daun-daun pepohonan berjatuhan, terbang melayang-layang terbawa angin hingga jatuh ke tanah. Yang enggak beruntung adalah daun-daun yang jatuh ke sungai, lalu terbawa arus sampai ke muara. Sekarang giliran comic terakhir kami siang itu, Maz Reyza.

Dia sudah maju, berdiri di tengah-tengah lingkaran. Tangannya seperti sedang istirahat di tempat saat upacara bendera, tetapi badannya enggak bisa tegak gara-gara memili tulang belakang yang terlalu panjang. Sekali-dua dia mengepalkan tinjunya ke depan mulutnya seolah memegang sebuah microphone, lalu berdehem mengatur suara—sekaligus agar semua memperhatikan.

Kami semua duduk melingkar dengan wajah-wajah antusias, Maz Reyza adalah anggota Blogger Energy yang paling baru yang ikut kopdar hari itu. Sudah jelas jika kami semua menanti sebuah kejutan dari anak baru, wajah baru, dan semangat baru.

Setelah ber-dehm untuk yang terakhir kalinya, dan juga setelah menyeringai memandang kami semua, Maz Reyza dengan gesture tubuh lemah gemulai memulai berbicara, suaranya besar.

'Nama gue Maz Reyza,' dia berhenti sebentar. Logatnya medok, sama kayak gue, kami masih memandang antusias, 'Gue adalah jomblo.. baru putus sama pacar gue beberapa saat yang lalu,' dia kembali berhenti. Sengaja membuat kami semua menunggu, 'Gue putus sama pacar gue gara-gara dia punya jakun.' 

Semua tertawa.

'Ngomongin jomblo..' Maz Reyza kembali memulai setelah semua selesai tertawa, tanggannya masih berposisi seperti sedang istirahat di tempat saat upacara. Tapi kali ini sudah lebih rileks, 'Iya, kalo ngomongin jomblo enaknya ngomongin Huda.' Dia berhenti sebentar, satu-dua anak-anak tertawa kecil, lalu Maz Reyza melanjutkan, 'Dia itu jomblo dramatis, saking jomblonya sampe jadi sales di Blogger Energy, liat aja berapa anak-anak BE yang gabung gara-gara dia.'

Semuanya ketawa. Gue juga ikut ketawa meskipun memasang wajah merah, bersungut-sungut. Dan joke-joke berikutnya dari Maz Reyza enggak jauh-jauh dari membahas betapa ngenesnya gue sebagai jomblo kawakan. Gue sempet heran gimana dia bisa ngolok-olokin gue sedangkan kami berdua aja di dunia maya saling menghormati. Tapi usut demi usut, ternyata dalang dari materi kampret Maz Reyza tentang gue adalah Dali Kewara, yang menyuruh Maz Reyza untuk mengolok-olok gue. Kampret.

***

Kami semua setelah makan siang di semacam food court gitu, akhirnya memutuskan untuk beranjak pergi. Mencari tempat ber-AC karena anak-anak yang dari Malang yang terbiasa dengan udara dingin, mulai enggak betah kepanasan. Kami semua berjalan menuju mall tanpa tujuan.

Hari mulai sore. Matahari sudah condong ke barat membuat jika kita melihat ke bawah, maka yang terlihat adalah bayangan kita sudah lebih panjang dari ukuran aslinya. Dan hawa panas yang membakar  sepanjang siang, sudah enggak begitu menyiksa. Kami semua—setelah berkeliling di dalem mall tanpa tujuan, memutuskan untuk pergi keluar dan berfoto bersama. Mengabadikan kenangan yang tak terlupakan.

Saat salah satu dari kami mengecek ponsel, melihat jam, dan saat Kak Nenna mencari-cari tiket kereta api yang akan mengantarkannya pulang ke Malang di dalem tasnya, kami semua memutuskan untuk pulang. Hari sudah sore. Maka sebelum jabat tangan terakhir dilakukan, kami semua menandatangi banner Blogger Energy, lalu pulang membawa begitu banyak pengalaman menyenangkan. Gue seneng bisa bener-bener kenal mereka di dunia nyata. Buat gue, BE bukan cuma dunia maya, mereka nyata!

Dan sesi yang paling wajib itu pun akhirnya kami lakukan, yaitu sesi foto-foto.








Sampai ketemu dikopdar selanjutnya!! Ngomong-ngomong kota kalian kapan mau kopdarnya?

Kiriman dari Nurul Huda

Akun ckptw: hudasanca

[Kopdar] Hangatnya Kopdar BE Surabaya [Kopdar] Hangatnya Kopdar BE Surabaya Reviewed by Blogger Energy on 14:04 Rating: 5

23 comments

  1. Cakep nih... Walaupun aku baru pertama ikutan kopdar BE, tapi asik kok...

    Btw... Hud, sori aku minta maaf atas materi stand up Maz Reyza soal elo... Itu aku lakuin secara sengaja... Sumpah...

    Dan kesan-kesan bertemu anak-anak BE pas kopdar kemaren... " Kalian Luar Biasa... "

    ReplyDelete
  2. Haduh ini panjang amat dah Hudd -_-

    Kesan pertamaku setelah membaca ini adalah, kamu udah berhasil mengkombinasikan gaya bahasa melankolis dengan gaya bahasa anak2 gaul. Terbukti dari penjabaran suasana yang syahdu tapi juga ada bumbu-bumbu gaya bahasa anak muda jaman sekarang. Jadi kesannya ngalir melow tapi gaul. Gitu

    Terus, sebenernya ada beberapa bagian yang sebenernya gak usah terlalu banyak dijabarkan. Contohnya dialog, itu penggambaran suasananya gak usah terlalu over. Get it? :o Soalnya kalo aku pribadi sih gitu :D

    Dan ada bagian dialog dari Ridho yang gak dikasih tanda petik (" ") mungkin dirimu lupa kali ya? Gapapa dah, itu semua udah tercover dengan apik sama alur ceritanya :D

    Yoss sepertinya tulisanmu semakin kesini semakin baik, elegan, dan keren aja Hudd :D
    Dapet wangsit darimana nih?
    Ohya satu lagi, perasaan dari awal baca sampe akhir, aku enggak nemu kata-kata "Bang Elang" kan dia ikut juga -_- Jahat mah dirimu sampe lupa sama Bang Elang.

    ReplyDelete
  3. kereennn.. baru pertama kali ikut kopdar BE. seneeeng banget. meskipun agak sedikit canggung juga sih. sayangnya ngga ikutan sampe part akhir...

    jalan cerita yang kamu tulis disini enak dibaca, dan ngga bertele-tele. udah bisa menggambarkan keseluruhan yang terjadi di kopdar 2 BE ini. cakeep :D

    that was the amazing day :)

    ReplyDelete
  4. Bang Elang kelupaan belum aku ceritain -_______-

    Pokoknya Bang Elang dateng pas semua sudah duduk2 di tempat skate board, dia datang dengan sekardus minuman mineral di pelukannya. Dan anak kecil yang berlarian dikejar-kejar ibunya. Bang Elang dateng sama Abel dan Istrinya :) dan happy ending deh

    ReplyDelete
  5. Bang Elang kelupaan belum aku ceritain -_______-

    Pokoknya Bang Elang dateng pas semua sudah duduk2 di tempat skate board, dia datang dengan sekardus minuman mineral di pelukannya. Dan anak kecil yang berlarian dikejar-kejar ibunya. Bang Elang dateng sama Abel dan Istrinya :) dan happy ending deh

    ReplyDelete
  6. tulisannya jadi kecil-kecil kan yak?
    Yah, sayang nggak bisa ikutan Kopdar BE. Huhuhu. >.<
    Waktu itu ada acara apa yak? aku lupa. Ah next time mesti ikut. Seru banget kayaknya. :D

    Terus saran ajah nih. Ada satu foto dengan seluruh anggota yang kopdar. Plus tulisan namanya siapa-siapa aja mereka. Kan biar yang lain juga tahulah wajah-wajah mana saja yang sudah teraniaya. :P

    ReplyDelete
  7. Wkwk, masa om el dilupain xD
    Iiihhhh, nilam pingin banget ketemu abel deh :D *cubit huda*

    Surabaya kok kayaknya kopdar mulucii :| bikin enpi :|
    kita (gyerz jabodetabek) yang waktu itu udah ngerencanain nggak jadi-jadi :/
    Seru banget, emang, kopdar itu. Baru pernah sekali pas socmed fest di fx sudirman. Dan itu berkesab bingiiittt ><
    Mau kayak gitu lagii ~~~\o/

    ReplyDelete
  8. jatim rajin banget kopdar yah, kalian keren banget, gue sebagai chapter jabar ngerasa harus buat acaraa yang sama. initinya gue iri -__-

    ReplyDelete
  9. baca ini gue cuma bisa senyam senyum sendiri aja. Acara kopdarnya sih keren, tapi kok gue lebih seneng waktu Huda dibully sama Maz Reyza. Gak di mana-mana huda emang bahan yang renyah untuk dijadikan bahan olokan. Hahaha tapi kepolosan Ridho juga bikin kadar humor dengan cara yang beda, apalagi pas dia ngomong 'Nah kan.. gak ada yang ketawa.' Itu lucu banget.

    Huda juga keren, nunjuk ornag korban emon, kayak lo gak pernah aja diperlakukan emon, lupa hud?

    ReplyDelete
  10. asiknya bisa kopdaran.
    ini kenapa gak pas gw masih di surabaya siichh...
    sekarang udah pindah dr surabaya.
    harga tiketnya 8rb ya skrg, hahahha blm ada setaun yang lalu masih 5 ribu
    *ketawa puas*

    moga makin solid!

    ReplyDelete
  11. itu kopdarnya jadi hangat gara-gara ada huda apa emang gara-gara surabaya lagi panas waktu itu? hahaha

    Btw, kalo ada divisi HRD di BE kayaknya huda cocok deh jadi menterinya, berbakat banget soalnya merekrut masa dan mengundang tawa muehehehe

    ReplyDelete
  12. Jawa timur sudah 2 kali kopdar. Samarinda malahan nggak pernah kopdar. gimana mau, semuanya sudah saling kenal :|

    dalam dunia ini memang ada aja sosok yang cocok untuk di bully. kayaknya itu kamu, hud #Pukpuk

    ReplyDelete
  13. Busyeeett dah tulisannya panjang bener nih gue baca sampek ngantuk -_-.
    Tapi syik banget ceritanya waktu kopdaran nih, jadi pengen ikutan kopdaran seru banget kumpul bareng di suatu tempat. Seruuuu pokok nya.

    Yah tapiii gue nggak pernah ikutan karena daerah yang nggak memungkan, kopdaran aja diadakan di kota kota gede dang kan ??.
    Ahh semoga suatu saat aja bisa ntar kalo gue udah gede, gue nyusul :v

    ReplyDelete
  14. Asik banget tulisannya. Gak cuma sekedar ngasih laporan kopdar, tapi diksi yang dipake Huda jadi membuat yang baca ikut ngerasain suasana si sana. Ya emang kekurangannya kita gak tau siapa2 aja orangnya dengan nama yang udah disebutin tadi. Bisa bikin materi stand up comedy dalam waktu sesingkat itu emang keren. Dan Maz Reyza yang nge-roast Huda emang punya potensi paling keren. Namanya juga audiennya terbatas.

    Gue udah baca dari atas sampai kelar. Huda... lo punya potensi buat bikin buku. Gue percaya banget deh...

    ReplyDelete
  15. ebuseetttt nih postingan puanjaaaaaaaaaaaaanggg bangett mana detail banget sampe ngamatin 2 cewek juga ditulis, mana bilang cewek jaman skrang muda tua nggak ada bedanyaa..mana yang bilang gituuu, yang manaaaaaaaaaaa???? *murka

    tapi keren kalian, apalagi Nenna yang kayaknya getol bangettt dan sampe nyiapin games segalaa..kalian memang keren dan terhitung berhasil karena yang datang banyakk, mana foto fotonya menggiurkaaannn, yang bekasi mana nih ayooo kita juga ikutaaaaannn

    ReplyDelete
  16. Tulisannya lengkap, meski enggak ada foto per personel yang ikut kopdar sih^__^V

    Hahaha. Stand up comedy kalau memang enggak bakat, enggak bakalan bisa buat penonton tertawa. Sabar ya, Hud.

    Betewe, Nena keren udah bisa ngumpulin segitu banyak orang. Jabodetabek kapan satu suara kopdarnya???? ^^

    ReplyDelete
  17. huahahahaa..ya ampun..so swit banget kalian..aku baru baca :| bener-bener detail deh si huda jelasinnya.. good job, guys..

    ReplyDelete
  18. Ihh yang kopdaran, asyik banget sih..
    Aku juga pengen -_-

    ReplyDelete
  19. males komen ahh,,, aku nya nggak disebutin --"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh, hidup kadang lebih keras dari batu.. sabar ya, om..

      Delete
  20. hahhahhanjiiir, ini panjang amat ya tulisannya. semua lengkap diceritain sama huda.
    asku aja sampai sekarang belum nyeritain kopdar ini, eh bukber udah ada. hahaha

    ReplyDelete
  21. Sebenernya ini cerita udah dibaca dari kapan ya. Cuma karena baca dari hp jadi baru bisa komen setelah dipanas-panasin Huda-_-

    Gak tau ya, aku envy terus tiap regional Jatim ngadain kopdar. Apalagi di grup ngomongin kopdar mulu. Panas nih panas... *geber kipas* Jabar kapan doonnggg.

    Meskipun panjang, tapi Huda di sini nggak asal cerita. Dia merhatiin juga kerapian dan diksi. Enak bacanya meskipun agak miris juga ya... Kapan aku bisa ketemu semua gyerz-gyerz...

    ReplyDelete
  22. Makan gado-gado itu enak ala kadarnya.
    Bagi yang jual gado-gado dan ingin membrandingnya bisa coba gunain dus makanan punya Greenpack. Mau tahu seperti apa dus greenpack? Klik di sini aja http://www.greenpack.co.id/

    ReplyDelete